BackWardto2021: Myanmar memulai marak Kudeta Militer Feb-Nov 2021

 Babak baru krisis politik di Myanmar terjadi dengan militer melakukan kudeta dan menangkapi para pemimpin sipil. Para pemimpin sipil seperti Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint ditangkap dalam penyerbuan yang berlangsung di pagi buta. Penangkapan mereka terjadi sebelum parlemen menggelar pertemuan perdana, pasca-pemilihan umum pada November 2020. Baca juga: Militer Myanmar Ambil Alih Kekuasaan dan Kepung Yangon, Umumkan Keadaan Darurat Dilansir AFP Senin (1/2/2021), berikut sejumlah fakta yang berhasil terhimpun dalam kudeta militer Myanmar. Bagaimana krisis ini bermula? Meski di dunia dia dihujat karena penindakan atas etnis Rohingya, Aung San Suu Kyi tetaplah figur populer di negaranya. Karena itu partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), mengamankan kemenangan besar dalam pemilu November 2020. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Total, dia mendapatkan 258 House of Representatives (majelis rendah), dan 138 House of Nationalities (majelis tinggi). Namun militer, yang sudah menguasai negara di Asia Tenggara itu dalam 60 tahun terakhir, menyebut pemilu November 2020 penuh kecurangan. Baca juga: Mengenal Min Aung Hlaing, Jenderal Senior yang Jadi Pemimpin Sementara Myanmar Mereka mengeklaim menemukan lebih dari 10 juta pelanggaran suara, dan meminta komisi pemilu untuk melakukan pencocokan dengan temuan tersebut. Tensi mulai meningkat setelah Jenderal Senior Min Aung Hlaing, panglima militer Myanmar memberikan ancaman kudeta. Kudeta militer di Myanmar genap berusia enam tahun pada Minggu (1/8/2021). Pada 1 Februari lalu, militer Myanmar menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi beserta tokoh lainnya lalu mengambil alih tampuk kekuasaan. Baca juga: Nasib Pengungsi di Rakhine Myanmar di Tengah Pandemi Covid-19 Sejak saat itu, Myanmar dilanda kekacauan. Aksi protes dan pemogokan hampir berlangsung setiap hari hingga lahirlah milisi pertahanan sipil. Ratusan orang tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar dan ribuan lain dijebloskan ke dalam penjara. Melansir AFP, berikut perkembangan Myanmar setelah enam bulan militer melakukan kudeta. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Baca juga: Cerita Diaspora Indonesia Selama Lockdown Gelombang Ketiga Covid-19 di Myanmar Apa yang terjadi sejak kudeta? Menurut kelompok pemantau lokal, militer Myanmar sudah membunuh hampir 1.000 orang dan menangkap ribuan lainnya. Puluhan ribu pegawai negeri dan pekerja lainnya dipecat karena bergabung dengan aksi protes atau masih mogok untuk mendukung kampanye pembangkangan sipil nasional. Di samping kekacauan akibat kudeta, wabah virus corona semakin parah menerjang Myanmar. "Negara ini telah jatuh ke dalam kekacauan dan hampir runtuh total," kata Manny Maung dari Human Rights Watch kepada AFP. Baca juga: Junta Myanmar Tangkap Para Dokter yang Rawat Pasien Covid-19 Apakah orang-orang masih memprotes? Rakyat masih melakukan aski protes, tapi skalanya berbeda dengan yang sempat terjadi pada Februari hingga Maret. Kala itu, ribuan orang turun ke jalanan di seluruh negeri dan pemandangan aksi protes tersebut seperti menjadi keseharian. Tersisa sedikit demonstran di Yangon yang menggelar demonstrasi secara teratur tiap pagi. Mereka berlari-lari di jalanan sampi berteriak, dan kadang-kadang menyalakan suar. Tapi bahkan aksi tersebut semakin berbahaya. Agen polisi selalu waspada dan banyak pengunjuk rasa telah diculik oleh aparat berpakaian preman. Baca juga: Myanmar dalam Krisis Covid-19 Saat Para Dokter Bersembunyi Ketakutan Diburu Junta Militer Apakah ada yang melawan? Beberapa kelompok pemberontak etnik di Myanmar yang kuat menentang kudeta dan sejak saat itu bentrok dengan militer. Para milisi dari Persatuan Nasional Karen, yang menawarkan perlindungan bagi para pembangkang yang melarikan diri, menyerang dan meruntuhkan sebuah pangkalan militer pada Mei. Kelompok-kelompok lain di dekat perbatasan Myanmar-China juga melancarkan pertempuran sporadis melawan angkatan bersenjata Myanmar. Milisi pertahanan sipil juga menyerang militer di lingkungan perkotaan. Mereka kerap melancarakan serangan dengan senjata rakitan seadanya. Baca juga: Myanmar Akan Terima Enam Juta Dosis Vaksin Covid-19 dari China Apa yang dilakukan komunitas internasional? Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris telah meningkatkan sanksi terhadap junta militer dan bisnis yang terkait dengan militer. Tetapi para jenderal sudah terbiasa diisolasi oleh kancah internasional. PBB menuduh junta melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Tapi sejauh ini, badan tersebut memberlakukan resolusi yang tidak mengikat untuk mencegah aliran senjata ke Myanmar. Baca juga: Gelombang Ketiga Covid-19 di Myanmar Mengganas, 90 Persen Wilayah Terdampak Apa yang terjadi dengan Aung San Suu Kyi? Aung San Suu Kyi hampir tidak terlihat sejak para jenderal menggulingkan pemerintahannya dan menempatkannya di bawah tahanan rumah di Naypyidaw. Mereka kemudian mengajukan berbagai tuduhan terhadapnya, termasuk tuduhan mengimpor walkie-talkie secara ilegal dan melanggar pembatasan virus corona. Apa lagi yang bakal terjadi di Myanmar? Didukung oleh Rusia dan China, junta militer Myanmar tampaknya telah mengkonsolidasikan posisinya meski perlawanan rakyat terhadap kekuasaan militer terus berlanjut. Junta militer juga membeberkan rencana untuk mengadakan pemilu baru namun masih belum nenjelaskan kapan akan dilaksanakan. AS kembali menyerukan embargo senjata terhadap junta militer Myanmar setelah lebih dari 30 orang dibantai dan dibakar pada malam Natal. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Selasa (28/12/2021) mengatakan, pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa tidak dapat diterima. “Dan kekejaman militer yang meluas terhadap rakyat Burma menggarisbawahi urgensi meminta pertanggungjawaban mereka,” kata Blinken menggunakan nama lama Myanmar. Baca juga: PBB Merasa Ngeri atas Laporan 35 Orang Dibunuh dan Dibakar di Myanmar Dia juga meminta masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak meminta pertanggungjawaban junta militer untuk mencegah terulangnya kembali kekecakam di sana. “Termasuk dengan mengakhiri penjualan senjata dan dual-use teknologi kepada militer,” imbuh Blinken sebagaimana dilansir AFP. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Sebelumnya, milisi anti-junta militer mengaku menemukan lebih dari 30 jenazah yang hangus terbakar. Di antara jenazah itu ada perempuan dan anak-anak. Jenazah-jenazah itu ditemukan beserta mobil dan beberapa truk yang terbakar di Negara Bagian Kayah, di mana pemberontak pro-demokrasi memerangi militer. Baca juga: 30 Orang Lebih Tewas Ditembak Lalu Dibakar oleh Militer Myanmar pada Hari Natal Save the Children pada Selasa mengonfirmasi kematian dua pekerjanya yang terperangkap dalam tragedi tersebut. Sejak militer melakukan kudeta dan menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi pada 1 Februari, Myanmar berada dalam kekacauan. Menurut kelompok pemantau lokal, lebih dari 1.300 orang tewas di tangan pasukan junta militer sejak kudeta.



Komentar

Postingan Populer